Substance Abuse adalah perilaku yang merugikan atau membahayakan bagi ibu hamil termasuk penyalahgunaan atau penggunaan obat atau zat-zat tertentu yang membahayakan ibu hamil, berikut yang termasuk dalam Substance Abuse

#1 Obat-Obatan

Meskipun janin di dalam kandungan telah dilindungi dari pengaruh luar oleh plasenta dan selaput ketuban, tetapi ia sama sekali tidak terlepas dari pengaruh buruk obat yang dikonsumsi oleh sang ibu. Penggunaan obat yang semakin hari semakin meningkat mengharuskan dokter, tenaga paramedis dan masyarakat pada umumnya mengetahui secara benar efek samping yang mungkin terjadi. Secara khusus penggunaan obat-obatan pada ibu hamil tidak hanya memberikan efek samping pada ibu tetapi lebih dari itu ada pengaruh buruk pada janin, yang berupa cacat bawaan. Obat atau agen lain yang dapat mengakibatkan cacat bawaan yang nyata lazim disebut sebagai obat yang bersifat teratogenik atau dismorfogenik.

Obat-Obat Dengan Risiko Yang Lebih Besar Dibanding Dengan Manfaatnya

OBAT RISIKO
Asetozolamida Cacat anggota badan
Amfetamin Transposisi pembuluh darah besar, palate skiziz, takikardi
Amitriptin Iritabilitas Neonatus
Antidiabetik oral Kematian janin dalam kandungan
Anti kanker Trombositopenia, cacat bawaan
Aspirin IUGR
Dietilstilbestrol Karsinoma Vagina, kelainan saluran kelamin
Dihidrosetreptomisin Tuli
Dikumarol Kelainan rangka dan wajah, retardasi mental
Etanol Mikrosefali, palatoskiziz, retardasi mental
Fenitoin Kelainan majemuk
Fenasetin Gangguan  dalam darah
Fenmetrasin Cacat rangka dan alat dalam
Klorokuin Kerusakan retina dan syaraf ke delapan
Klorropamida Kelainan meningkat
Kloramfenikol Gangguan pernafasan, grey sindrom (sindrom abu-abu)
LSD Kelainan Kromosom
Meksilin Kelainan Majemuk
Metrotreksat Kelainan Majemuk
Nitrofurantoin Gangguan dalam darah
Parametadion Kelainan Majemuk
Pedofilin Kelainan Majemuk
Serotonin Kelaianan Meningkat
Steroid Seks Sindroma  VACTREL[1]
Streptomicin Kerusakan saraf kedelapan, mikromelia, kelainan rangka majemuk
Tetrasiklin Pertumbuhan tulang terhambat, mikromelia, sindaktili, gigi kuning
Thalidomide Pokomelia, Amelia, meromelia, kelaianan  alat dalam
Tolbutamid Kelainan Meningkat
Trimetadion Kelainan Majemuk
Warfarin Kelainan rangka dan wajah, retardasi mental
Yodium Goiter Congenital[2], hipotiroidisme, retardasi mental

 

#2 Merokok

Kandungan nikotin dalam rokok bisa mengacu gangguan kontraksi. Timbunan nikotin dalam darah bisa menghambat aliran darah dari ibu ke janin melalui tali pusat. Dengan begitu, kemampuan distribusi zat makanan  yang diperlukan janin juga akan terganggu. Belum lagi karbondioksida yang terkandung dalam asap rokok akan mengikat hemoglobin darah. Akibatnya, kerja hemoglobin akan mengikat oksigen sekaligus menyalurkannya ke seluruh tubuh, akan terhambat, dengan begitu rokok meningkatkan risiko     kelahiran bayi dengan berat badan rendah, di bawah 2500 gram, terutama mereka yang merokok lebih dari 20 batang sehari. Risiko keguguran dan lahir prematur juga meningkat 2-4 kali lipat dibanding wanita bukan perokok. Belum lagi risiko perdarahan yang juga mengalami peningkatan. Selama hamil, hindari asap rokok, karena bila ibu hamil menjadi perokok pasif ia bisa menyalurkan efek negative itu kepada janinnya. Tingkat keparahnnya hampir sama dengan yang dialami perokok sejati. Jadi usahakan menjauhi tempat-tempat yang terpolusi.

#3 Alkohol dan Kafein

Melalui tali pusatnya, alkohol yang dikonsumsi ibu hamil bisa berpengaruh terhadap janin. Bayi yang lahir dari ibu peminum memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan mental maupun otak seperti cacat pada kepala dan muka, pertumbuhan janin terhambat. Itulah mengapa sangat dianjurkan untuk menghindari konsumsi minuman beralkohol selama kehamilan. Bahkan yang kecanduanpun, lebih baik mengehentikan kebiasaan buruk ini sebelum memutuskan untuk hamil. Alkohol yang diminum sebelum kehamilan tidak berpengaruh sama sekali pada janin lantaran akan dikeluarkan dari tubuh sehari kemudian.

Kopi dan teh  mengandung kafein yang memiliki efek merangsang syaraf serta memacu kerja jantung dan otot. Bila dikonsumsi berlebihan bisa merangsang aktifitas syaraf yang pada akhirnya akan membebani kerja jantung, pembuluh darah dan ginjal. Meski begitu, konsumsi normal 2-3 cangkir sehari umumnya tidak sampai berpengaruh ke janin karena prosentasenya sangat kecil, beberapa jam setelah diminum umumnya segera dikeluarkan tubuh bersama air seni, hingga tidak tertimbun dalam tubuh.

#4 Hamil dengan Ketergantuangan Obat/Pengguna NAPZA

Pemakaian obat-obatan pada wanita hamil sangat mempengaruhi ibu maupun janinnya, terutama pada masa konsepsi dan trimester I kehamilan, karena tahap ini merupakan tahap organogenesis atau pembentukan organ. Contoh obat-obatan tersebut adalah ganja, morfin, heroin, pethidin, jenis barbiturate, alcohol dan lain-lain akan menimbulkan gangguan pada ibu dan janinnya. Janin akan mengalami cacat fisik, kelahiran premature dan BBLR, serta cacat mental dan social. Ibu hamil dengan ketergantungan obat umumnya takut melahirkan bayi cacat, merasa gelisah, bingung dan takut terhadap akibat yang akan dialami oleh bayinya dengan minum obat-obatan tersebut.

#5 Sinar Rotgen atau Radiasi

Pengaruh sinar rotgen atau radiasi terhadap kehamilan terutama adalah pada trimester I (umur 4 sampai 9 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir). Pada kehamilan trimester I merupakan tahap dasar pembentukan organ termasuk organ vital otak, sumsum tulang belakang, jantung, ginjal dan pernafasan, sehingga paparan sinar X-ray pada umur kehamilan ini akan menimbulkan resiko kecacatan janin, malformasi janin, retardasi mental pada janin, abortus dan persalinan prematurus. Efek radiasi terhadap janin tergantung dari umur kehamilan beberapa saat paparan radiasi berlangsung dan seberapa besar jumlah radiasi yang diterima.

hettyastri

Sumber :
Husin dkk. 2014. Asuhan Kehamilan Berbasis Bukti, Paradigma Baru dalam Asuhan Kebidanan. Sagung Seto, Jakarta
Jordan. 2014. Perawatan Ibu Hamil
Sary. 2009. Panduan Obat Aman untuk Kehamilan
Foto By : Pixabay, Stocknap