Perubahan teknologi yang semakin pesat, di zaman canggih seperti sekarang ini, kehidupan anak dan remaja tentu tidak sama seperti kehidupan remaja zaman dahulu. Saat ini banyak fasilitas atau hal tertentu yang membuat anak merasa dimudahkan dan nyaman, namun tidak sedikit pula yang merugikan kehidupan mereka. Adanya teknologi modern seperti internet, ponsel, televisi atau fasilitas game, bisa berdampak bagi kehidupan anak yaitu positif dan negatif. Beberapa pengaruh teknologi terhadap kehidupan remaja dalam hal positif ialah membantu dalam pendidikan, sebagai contoh internet, memiliki pengaruh positif bagi perkembangan pendidikan, internet bisa menampilkan berbagai informasi pendidikan yang dibutuhkan oleh anak sekarang ini.

Selain dampak positif, teknologi juga memberikan banyak dampak negatif, adanya teknologi hiburan seperti televisi, perlengkapan game atau internet, bisa membuat anak dan remaja lupa waktu untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat, misalnya belajar atau beribadah. Anak remaja adalah anak yang mudah terpengaruh ketika menyerap suatu informasi, ia mungkin akan menerapkannya, misalnya banyak situs porno internet, hal ini tentu saja buruk bagi para remaja.  Acara-acara televisi yang kadang tak layak ditonton para remasa misalnya kekerasan, berita kriminal, acara gosip dan lainnya. Teknologi memang bisa memperluas sosialisasi, namun bila tidak digunakan dengan benar, akibatnya malah sebaliknya. Tidak sedikit remaja yang lebih suka mengurung diri di kamar atau menyendiri hanya untuk menikmati suatu teknologi, misalnya internet, ponsel atau play station (Kompasiana, 2015).

Data dan Fakta  yang memperihatinkan terjadi akibat pengaruh teknologi,  data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Tahun 2011 – 2016 menunjukan peningkatan yang signifikan pada kasus anak dan remaja tercatat 1.881 kasus dengan Napza dan 1.709 kasus Pornografi dan Cyber Crime pada anak. Pada Januari 2016 terjadi kasus Pemerkosaan yang berujung pada pembunuhan yang dilakukan 19 orang pria dua diantaranya adalah oknum penegak hukum kepada remaja putri berusia 19 tahun yang dilakukan di Manado, diketahui bahwa perkenalan antara korban dan pelaku melalui media sosial (Bintang, 2016). Kemudian  belum lama ini kasus yang menggemparkan terjadi di Bengkulu tepatnya pada bulan Mei 2016, dimana 14 remaja memperkosa gadis berusia 14 tahun yang masih duduk di bangku SMP, dimana pemerkosaan dilakukan sungguh keji saat korban sudah tewas masih diperkosa, latar belakang kasus ini adalah seringnya menonton video porno dan mengkonsumsi minuman keras. Kasus lainnya pada September 2016 di Riau, adalah seorang pelajar menjadi korban kebejatan pacarnya, gadis berusia 17 tahun diperkosa dan adegan tidak senonoh itu direkam tersangka melalui ponselnya, selain kasus pemerkosaan kasus Sodomi juga terjadi pada anak laki-laki yang masih duduk di bangku Taman Kanak – Kanak dimana pelakunya adalah anak-anak, dimana pelaku memperlihatkan gambar porno kepada korban kemudian korban di sodomi di tempat pemakaman umum (Sindonews.com, 2016).

Pentingnya meningkatkan kepedulian untuk berkomunikasi dengan anak dan remaja tercermin pada grafik yang menggambarkan buramnya potret remaja Indonesia akibat dilumuri kasus-kasus beraroma pornografi dari mulai seks bebas, aborsi, sampai terpapar HIV/AIDS. Data itu bersumber dari survey yang dilakukan oleh KPAI dan Kementerian Kesehatan pada Oktober 2013. Grafik tersebut memaparkan bahwa sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks diluar nikah. 20% dari 94.270 perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga berasal dari kelompok usia remaja dan 21% diantaranya pernah melakukan aborsi, lalu pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus, 30% penderitanya berusia remaja. Fenomena itu sebenarnya merupakan lanjutan dari begitu banyak kemudahan yang diterima anak-anak, bahkan yang berasal dari pada orang tua mereka sendiri, untuk mengakses konten-konten porno di media sosial melalui gadget yang diperoleh pada usia terlalu dini tanpa dibekali aturan yang tepat dalam penggunaannya (Kompasiana, 2016).

Data yang mengejutkan terjadi di Maluku Utara, hal ini tercatat di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mencatat jumlah kasus perlindungan anak dari tahun 2011-2016 ditemukan kasus anak sebagai korban kekerasan seksual (Pemerkosaan, Pencabulan, Sodomi/Pedofilia) sebanyak 15 Kasus, anak korban Pornografi dan Cyber Crime sebanyak 15 kasus, Anak korban Pornografi dari Media Sosial sebanyak 3 Kasus, anak pelaku kepemilikan media Pornografi (HP/Video) sebanyak 9 kasus, anak sebagai korban Prostitusi Online sebanyak 3 kasus, dari kasus-kasus tersebut trend jumlahnya cenderung meningkat, data tersebut adalah data yang dilaporkan, hal ini menandakan masih banyak kasus yang terjadi tetapi tidak dilaporkan. Kasus tersebut membuat keprihatinan terhadap masa depan anak bangsa.

Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak dan remaja yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya. Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan intelektual. Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut dalam keadaan sehat jiwanya. Keluarga merupakan kesatuan yang kecil di masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental, oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya. Keluarga yang gagal memberi cinta kasih dan perhatian akan memupuk kebencian, rasa tidak aman dan tindak kekerasan kepada anak-anaknya. Demikian pula jika keluarga tidak dapat menciptakan suasana pendidikan maka hal ini akan menyebabkan anak-anak terperosok atau tersesat jalannya. Keluarga merupakan tempat pemupukan pendidikan untuk hidup bermasyarakat dan bernegara agar mampu berdedikasi dalam tugas, kewajiban dan tanggungjawabnya sehingga keluarga menjadi tempat pembentukan otonom diri yang memiliki prinsip-prinsip kehidupan tanpa mudah dibelokan oleh arus godaan. Keluarga menjadi fungsi terpercaya untuk saling membagikan beban masalah, mendiskusikan poko-pokok masalah, mematangkan segi emosional, mendapatkan dukungan spiritual dan sebagainya.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka Yayasan Raudatul Ilmu dan Poltekkes Kemenkes Ternate, melalui program Parenting with Heart back to Familymelaksanakan Seminar Parenting bagi remaja, calon orang tua, orang tua dan keluarga di Maluku Utara khususnya di Kota Ternate. Narasumber dalam seminar ini adalah Mona Ratuliu sebagai penulis buku ParenThink dan dr. Husain Assagaf, Sp.A, kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 19 Agustus 2017 di Royal’s Resto and Function Hall Ternate.

hettyastri