Komunikasi dan konseling merupakan bagian yang menentukan kepuasan dalam layanan kesehatan, maka banyak hal yang perlu dikuasai sebagai tenaga kesehatan dalam berkomunikasi khususnya pada pelayanan kebidanan.

12 PRINSIP KOMUNIKASI TENAGA KESEHATAN

Dalam berkomunikasi dengan ibu, tenaga kesehatan perlu memegang prinsip-prinsip berikut ini:

  1. Buat ibu merasa nyaman dan diterima dengan baik.
  2. Bersikap ramah, senantiasa menghargai, dan tidak menghakimi.
  3. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana.
  4. Setiap kali hendak melakukan pemeriksaan atau prosedur/tindakan klinis, minta persetujuan dari ibu dan jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  5. Rangkum informasi-informasi yang penting termasuk informasi mengenai hasil pemeriksaan laboratorium rutin dan pengobatan.
  6. Pastikan ibu mengerti tanda-tanda bahaya/kegawatdaruratan, instruksi pengobatan, dan kapan ia harus kembali berobat atau memeriksakan diri. Minta ibu mengulangi informasi tersebut, atau mendemontrasikan instruksi pengobatan.
  7. Lakukan konseling, anamnesis, maupun pemeriksaan di ruang yang pribadi dan tertutup dari pandangan orang lain.
  8. Pastikan bahwa ketika berbicara mengenai hal yang sensitif/pribadi, tidak ada orang lain yang dapat mendengar pembicaraan tersebut.
  9. Minta persetujuan ibu sebelum berbicara dengan keluarganya.
  10. Jangan membahas rahasia ibu dengan rekan kerja ataupun pihak lain.
  11. Pastikan semua catatan sudah dilengkapi dan tersimpan dengan rapi serta teraga
  12. Batasi akses ke dokumen-dokumen yang memuat infromasi terkait ibu hanya kepada tenaga kesehatan yang berkepentingan.

Hal yang perlu diperhatikan :

Seringkali informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan tidak diterapkan atau tidak sesuai dengan kondisi ataupun kebutuhan mereka. Hal ini dapat terjadi karena komunikasi yang terjadi antara tenaga kesehatan dan ibu terjdi hanya satu arah sehingga ibu tidak mendapatkan dukungan yang  cukup untuk menerapkan informasi tersebut.

KONSELING

Konseling merupakan proses intera ktif antara tenaga kesehatan dan ibu serta keluarganya. Selama proses tersebut, tenaga kesehatan mendorong ibu untuk saling bertukar informasi dan memberikan dukungan dalam perencanaan atau pengambilan keputusan serta tindakan yang dapat meningkatkan kesehatan ibu.

Langkah-Langkah Konseling

  1. Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengerti situasi ibu dan latar belakangnya. Lakukan klarifikasi bila diperlukan dan jangan menghakimi.
  2. Identifikasi kebutuhan ibu, masalah ibu, dan informasi yang belum diketahui ibu. Pelajari setiap masalah yang ada serta dampaknya terhadap berbagai pihak (ibu, suami, keluarga, komunitas, tenaga kesehata, dan sebagainya).
  3. Tanyakan pendapat ibu mengenai solusi alternatif apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
  4. Identifikasi kebutuhan ibu terhadap informasi, sumber daya, atau dukungan lain untuk memecahkan masalahnya.
  5. Susun prioritas solusi dengan membahas keuntungan dan kerugian dari berbagai alternatif pemecahan masalah bersama ibu.
  6. Minta ibu untuk menentukan solusi apa yang paling memungkinkan untuk mengatasi masalahnya.
  7. Buatlah rencana tindak lanjut bersama.
  8. Evaluasi pelaksanaan rencana tindak lanjut tersebut pada pertemuan konseling berikutnya.

Keterampilan Konseling

  1. Komunikasi dua arah
    Ketika tenaga kesehatan ingin agar sebuah informasi diterapkan oleh ibu atau keluarganya, proses konseling dan komunikasi dua arah harus berjalan. Misalnya, ketika menentukan di mana ibu harus bersalin dan bagaimana ibu bisa mencapai fasilitas kesehatan tersebut.
  2. Membina suasana yang baik
    Tenaga kesehatan dapat membangun kepercayaan dan suasana yang baik dengan ibu misalnya dengan cara menemukan kesamaan-kesamaan dengan ibu dalam hal usia, paritas, daerah asal, atau hal-hal kesukaan.
  3. Mendengar dengan aktifKetika ibu berbicara, tenaga kesehatan perlu memperhatikan informasi yang diberikan dan menunjukkan bahwa informasi tersebut sudah dimengerti. Tanyakan pertanyaan yang berhubungan dengan informasi yang ibu berikan untuk mengklarifikasi pemahaman bersama. Ulangi informasi yang ibu sampaikan dalam kalimat yang berbeda untuk mengkonfirmasi dan rangkum butir-butir utama yang dihasilkan dari percakapan.
  4. Mengajukan pertanyaan
    Pertanyaan tertutup memiliki jawaban pasti dan biasa dipakai untuk mendapatkan data riwayat kesehatan ibu, misalnya: “Berapa usia Anda?” atau “Apakah Anda sudah menikah?”
    Pertanyaan terbuka menggali informasi terkait situasi, emosi, perasaan, sikap, pengetahuan, maupun kebutuhan ibu, misalnya “Apa yang Anda rasakan setelah melahirkan?” atau “Ceritakanlah mengenai persalinan terakhir Anda?”
    Hindari pertanyaan bersifat sugestif.
    Contoh:
    X  SALAH: “Apakah suami Anda memukuli Anda?”
    √  BENAR: “Bagaimana munculnya memar-memar ini?”
    Ajukan pertanyaan yang tidak menghakimi dan memojokkan ibu. Contoh:
    X  SALAH: “Mengapa Anda tidak segera datang kemari ketika Anda tahu Anda hamil?”
    √  BENAR: “Baik sekali Anda mau datang untuk memeriksakan kehamilan Anda saat ini. Apakah ada alasan yang membuat Anda tidak bisa datang sebelumnya?”
  5. Memberikan informasi
    Sebelum memberikan informasi, tenaga kesehatan harus mengetahui sejauh mana ibu telah memahami informasi yang akan disampaikan dan memberikan informasi baru yang sesuai dengan situasi ibu.Contoh:
    Bidan: Apakah ibu sudah mengerti bagaimana ibu harus merawat diri selama kehamilan?
    Ibu: Ya, saya harus banyak istirahat dan makan lebih banyak.
    Bidan: Betul sekali Bu. Selain itu, ada pula beberapa jenis makanan tertentu yang perlu Ibu konsumsi lebih banyak. Apa Ibu sudah tahu makanan apa saja itu?
    Ibu: Sayur, daging…
    Bidan: Ya, benar. Makanlah lebih banyak sayur dan daging, juga buah, kacang-kacangan, ikan, telur, keju, dan susu. Ibu tahu mengapa Ibu perlu mengkonsumsinya?
    Ibu: Agar bayinya sehat
    Bidan: Ya, makanan-makanan itu akan mendorong pertumbuhan bayi dan menjaga Ibu tetap sehat. Apakah ada lagi yang ingin ibu tanyakan mengenai apa yang harus ibu makan selama hamil?
  6. Fasilitasi
    Penting diingat bahwa konselor tidak boleh memaksa ibu untuk mengatasi masalahnya dengan solusi yang tidak sesuai dengan kebutuhan ibu. Bimbinglah ibu dan keluarganya untuk menganalisa kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan yang mereka miliki dan memutuskan sendiri pilihannya.

hettyastri