Rasa pedih dihati malam ini kembali dirasakan ketika melihat  kesehatan di Indonesia Timur masih memprihatinkan, sampai kapan semua ini terjadi, semua orang seolah sulit memperbaiki kondisi kesehatan di Indonesia, semua orang terlihat sibuk menjalankan program kesehatan yang diklaim dapat memperbaiki data kesehatan, namun pada kenyataannya terlihat Perbaikan itu ya… perbaikan itu nyata hanya pada data namun tidak pada kondisi kesehatan masyarakat, terlihat nyata lebih buruk dari data yang disampaikan, khususnya masyarakat yang tinggal di Indonesia Timur.

Berbagai Upaya Kesehatan Ibu dan Anak dilakukan untuk mengatasi perbedaan yang sangat besar antara Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)  di Negara maju dan di Negara berkembang seperti di Indonesia. Program Kesehatan Ibu dan Anak merupakan salah satu prioritas Kementerian Kesehatan dan keberhasilan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menjadi salah satu indikator utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025. Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator derajat kesehatan negara tersebut, disebut demikian karena Angka Kematian Ibu (AKI) menunjukan kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan. Tingginya AKI dan lambatnya penurunan angka ini menunjukan bahwa pelayanan KIA sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan maupun kualitas pelayanannya.

 

Masalah kesehatan ibu dan anak tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat tempat mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan tradisional seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, dan kebiasaan sering kali membawa dampak positif atau negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Salah satu sebab mendasar masih tingginya kematian ibu dan anak adalah budaya, selain faktor-faktor lain seperti kondisi geografi, penyebaran penduduk atau kondisi sosial ekonomi (Indrawati, 2012).

Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih dilandasi dengan pendekatan logika dan rasional, sehingga masalah kesehatan menjadi semakin kompleks. Disaat pendekatan rasional dirasa buntu dalam menangani masalah kesehatan, maka dirasa perlu dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi salah satu cara menyelesaikannya, untuk itulah maka dilakukan riset etnografi sebagai salah satu alterative mengungkap berbagai fakta kehidupan sosial masyarakat terkait kesehatan (Harun A, 2015).

 

Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia. Di Era Globalisasi sekarang ini dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah berbagai perlakuan yang diberikan kepada bayi baru lahir yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti berbagai pantangan, hubungan sebab-akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak positif maupun negatif terhadap kesehatan bayi (Putri, 2012).

Contoh nyata studi budaya (Etnografi) yang dilakukan oleh tim WHO pada kasus wabah ebola menjadi fenomena epidemic abad 20 berikut ini memberikan gambaran yang jelas bahwa budaya dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat setempat. Pada tahun 2014, tepatnya pertengahan hingga akhir tahun kasus ebola mencuat ke permukaan dan menjadi isu internasional, WHO mengatakan bahwa hingga akhir tahun 2014, jumlah korban tewas akibat wabah Ebola di Afrika Barat meningkat hingga 7.693 jiwa dari 19.695 kasus yang tercatat. Seorang ahli Antropologi yang termasuk dalam tim studi Etnografi WHO, Profesor Sylnvain Landry Faye mengatakan bahwa banyaknya masyarakat yang menolak pengobatan dan pencegahan ebola karena pendekatan awal yang dilakukan oleh tim medis tidak memperhatikan local wishdom setempat. Laye menjelaskan bahwa tindakan tim medis yang tanpa memperhatikan faktor budaya dan psikologi penduduk lokal akhirnya menjadi boomerang bagi mereka sendiri. Tim medis langsung melakukan tindakan pada masyarakat setempat yang suspect dan defining case, tanpa menjelaskan tujuan pengobatan dan perawatan atas tindakan yang dilakukan (Handayani, 2015).

 

 

Kesehatan anak sekarang ini sangat memprihatinkan, banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit tertentu karena tidak tercukupi kebutuhan gizinya, seperti banyak anak-anak di pelosok desa yang orang tuanya hanya sekedar memberi kebutuhan gizi sekedarnya saja pada anak mereka. Terutama mitos mengenai kesehatan anak, orang zaman dahulu mempercayai bahwa jika melakukan sesuatu yang telah lama dilakukan oleh pendahulunya maka mereka juga akan melakukan itu pada anak-anak mereka, padahal ini malah akan menjadi penghambat kesehatan anak, sehingga anak mudah sekali terserang penyakit. Salah satu contoh adalah yang terjadi pada Suku Sasak di Lombok, para ibu nifas biasa memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi. Contoh lainnya adalah masyarakat Kerinci di Sumatera Barat, pada usia 1 bulan bayi sudah diberi bubur tepung, bubur nasi, pisang dan lain-lain dan juga kebiasaan memberikan roti, nasi yang sudah dilumatkan ataupun madu dan teh manis kepada bayi baru lahir sebelum ASI keluar. Kebiasaan lain yang terjadi di hampir berbagai suku di Indonesia adalah persepsi terhadap Kolostrum, masyarakat tradisional mengaggap kolostrum sebagai susu yang sudah rusak dan tak baik diberikan pada bayi karena warnanya yang kekuning-kuningan. Selain itu, ada yang mengganggap kolostrum dapat menyebabkan diare, muntah dan masuk angin pada bayi (Suradi, 2013).

Aspek lain yang berkembang di masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan anak di Indonesia adalah masih dianggapnya Dukun sebagai penyembuh, masyarakat pada beberapa daerah berangggapan bahwa bayi yang mengalami kejang-kejang disebabkan karena kemasukan roh halus dan dipercaya hanya dukun yang dapat menyembuhkannnya. Selain itu masyarakat masih menganggap Demam atau Diare yang terjadi pada bayi dianggap pertanda bahwa bayi tersebut akan bertambah kepandaiannya, seperti sudah bisa untuk berjalan. Kesehatan anak juga dipengaruhi oleh faktor budaya dan sosial. Dimana hingga kini masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan masih menjalankan kepercayaan tersebut, hal ini dikarenakan kebiasaan yang terjadi telah turun temurun (Suradi, 2013).

Budaya masyarakat dalam menghadapi proses persalinan pada Etnik Manggarai Desa Wa Codi, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dimana pihak keluarga melakukan persiapan khusus menjelang kelahiran. Mereka menyiapkan/menyimpan sepotong bambu, persalinan yang ditolong oleh dukun beranak akan mengadakan ritual khusus, Pembuatan lampek lima (lima bilah bambu) yang digunakan dukun beranak untuk memotong tali pusat, setelah bayi lahir, dukun akan menekan tali pusat yang akan dipotong dengan bambu pertama yang tumpul, kemudian menekan lagi dengan potongan bambu lain yang lebih tajam, sampai potongan bambu kelima yang tipis dan sangat tajam. Oleh dukun beranak, vagina ibu yang usai melahirkan dibalut/dibebat dengan kain tenun hitam polos milik sang dukun, yang konon katanya bisa menghentikan perdarahan, usaha lain untuk menghentikan perdarahan adalah dengan memberikan ramuan temulawak dan saung mene untuk diminum kepada ibu usai melahirkan, tidak ada proses penjahitan pada vagina oleh dukun beranak. Luka melahirkan akan sembuh dengan sendirinya berkat ramuan obat kampung. Selain perawatan luka akibat persalinan, dukun beranak juga memberikan ramuan tradisional untuk tali pusar bayi dengan menggunakan daun sirih pinang yang dikerak airnya ke pusar yang sudah dipotong dan dibungkus dengan kain merah, empat hari atau lima hari kemudian pasti lepas dengan sendirinya (Raflizar, 2012).

Merujuk pada contoh-contoh diatas, kita semakin memahami bahwa kebudayaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kesehatan. Pada kondisi tertentu, praktik kebudayaan yang dilakukan akan menjadi potensi penularan penyakit, diskriminasi hingga kematian yang berakibat pada menurunnya derajat kesehatan masyarakat. Di sisi lain, tidak sedikit pula budaya yang membawa dampak positif bagi kesehatan. Para ahli mencatat, saat intervensi yang dilakukan bertentangan dengan praktek-praktek budaya  yang mengakar di masyarakat, budaya akan selalu menjadi prioritas utama. Upaya intervensi kesehatan harus beriringan dengan budaya lokal setempat, dan bukan menentangnya, oleh karena itu Riset Etnografi Kesehatan diperlukan. Pendekatan Etnografi akan memberikan gambaran yang lugas mengenai praktik kebudayaan dalam masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat setempat. Tidak hanya memberikan sisi emik peneliti, tetapi juga mempertimbangkan etik masyarakat local (Handayani, 2015).

 

hettyastri