Antenatal Care (ANC) merupakan hal yang sama dan mempunyai arti Asuhan Kehamilan, Antenatal Care berasal dari Bahasa Yunani yang berarti ante = di muka, pre = sebelum, sedangkan natal berasal dari kata natus yang artinya persalinan. Bahasa yang sering digunakan yaitu antenatal care, sedangkan Kemenkes menggunakan kata pelayanan antenatal.

Untuk menghindari risiko komplikasi pada kehamilan dan persalinan, anjurkan setiap ibu hamil untuk melakukan kunjungan antenatal komprehensif yang berkualitas minimal 4 kali, termasuk minimal 1 kali kunjungan diantar suami/pasangan atau anggota keluarga, sebagai berikut.

Tabel 1. Kunjungan Pemeriksaan Antenatal

Trimester Jumlah kunjungan minimal Waktu kunjungan yang dianjurkan
I 1 x Sebelum minggu ke 16
II 1 x Antara minggu ke 24-28
III 2 x Antara minggu 30-32
Antara minggu 36-38
  1. Selain itu dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter setidaknya 1 kali untuk deteksi kelainan medis secara umum.
  2. Untuk memantau kehamilan ibu, gunakan buku KIA. Buku diisi setiap kali ibu melakukan kunjungan antenatal, lalu berikan kepada ibu untuk disimpan dan dibawa kembali pada kunjungan berikutnya.
  3. Berikan informasi mengenai perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) kepada ibu.
  4. Anjurkan ibu mengikuti kelas ibu.

A. MELENGKAPI RIWAYAT MEDIS

  1. Pada kunjungan pertama, lengkapi riwayat medis ibu seperti tertera pada tabel di bawah ini.
  2. Pada kunjungan berikutnya, selain memperhatikan catatan pada kunjungan sebelumnya, tanyakan keluhan yang dialami ibu selama kehamilan berlangsung.

Tabel 2. Riwayat medis untuk dilengkapi pada kunjungan pertama

IDENTITAS RIWAYAT KEHAMILAN SEKARANG
–  Nama –  Hari pertama haid terakhir, siklus haid
–  Usia –  Taksiran waktu persalinan
–  Nama suami (jika ada) –  Perdarahan pervaginam
–  Alamat –  Keputihan
–  No. Telepon –  Mual dan muntah
–  Tahun menikah (jika sudah menikah) –  Masalah/kelainan pada kehamilan ini
–  Agama –  Pemakaian obat dan jamu-jamuan
–  Suku –  Keluhan lainnya
RIWAYAT KONTRASEPSI RIWAYAT MEDIS LAINNYA
–  Riwayat kontrasepsi terdahulu –  Penyakit jantung
–  Riwayat kontrasepsi terakhir sebelum kehamilan ini –  Hipertensi
RIWAYAT OBSTETRI LALU –  Diabetes melitus (DM)
–  Jumlah kehamilan –  Penyakit hati seperti hepatitis
–  Jumlah persalinan –  HIV (jika diketahui)
–  Jumlah persalinan cukup bulan –  Infeksi menular seksual (IMS)
–  Jumlah persalinan prematur –  Tuberkulosis
–  Jumlah anak hidup, berat lahir dan jenis kelamin –  Alergi obat/makanan

–  Penyakit ginjal kronik

–  Cara persalinan –  Riwayat kecelakaan (trauma)
–  Jumlah keguguran

–  Jumlah aborsi

–  Talasemia dan gangguan hematologi lainnya
–  Perdarahan pada kehamilan, persalinan dan nifas terdahulu –  Malaria

–  Golongan darah

–  Adanya hipertensi dalam kehamilan pada kehamilan terdahulu –  Asma

–  Epilepsi

–  Riwayat berat bayi < 2,5 kg atau > 4 kg –  Riwayat penyakit kejiwaan
–  Riwayat kehamilan sungsang –  Alergi (obat, makanan)
–  Riwayat kehamilan ganda –  Riwayat operasi
–  Riwayat pertumbuhan janin terhambat –  Obat yang rutin dikonsumsi
–  Riwayat penyakit dan kematian –  Status imunisasi tetanus
–  Riwayat penyakit dan kematian perinatal, noenatal, dan kematian janin –  Riwayat transfusi darah
–  Adanya masalah lain selama kehamilan, persalinan, dan nifas terdahulu

–  Durasi menyusui ekslusif

–  Riwayat penyakit di keluarga: diabetes, hipertensi, kehamilan ganda, dan kelainan kongenital

 

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
–  Usia ibu saat pertama menikah –  Kebiasaan merokok, menggunkan obat-obatan dan alkohol
–  Status perkawinan, berapa kali menikah dan lama pernikahan –  Pekerjaan dan aktivitas sehari-hari

–  Pekerjaan pasangan

–  Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan dan kesiapan persalinan –  Pendidikan

–  Penghasilan (bila mungkin)

–  Jumlah keluarga di rumah yang membantu –  Kekerasan dalam rumah tangga

–  Pilihan tempat untuk melahirkan

–  Siapa pembuat keputusan dalam keluarga –  Kehidupan seksual dan riwayat seksual pasangan
–  Kebiasaan atau pola makan minum –  Pilihan pemberian makanan bayi
–  Kondisi rumah, sanitasi, listrik, dan alat masak

B. MELENGKAPI PEMERIKSAAN FISIK UMUM

  1. Pemeriksaan fisik umum pada kunjungan pertama:Tanda vital:
    1. (tekanan darah, suhu badan, frekuensi nadi, frekuensi napas)
    2. Berat badan
    3. Tinggi badan
    4. Lingkar lengan atas (LILA)
    5. Muka : apakah asa edema atau terlihat pucat
    6. Status generalis atau pemeriksaan fisik umum lengkap, meliputi: kepala, mata, higiene mulut dan gigi, karies, tiroid, jantung, paru, payudara (apakah terdapat benjolan, bekas operasi di daerah areola, bagaimana kondisi puting), abdomen (terutama bekas operasi terkait uterus), tulang belakang, ekstermitas (edema, varises, refleks patella), serta kebersihan kulit
  2. Pemeriksaan fisik umum pada kunjungan berikutnya:
    1. Tanda vital: (tekanan darah, suhu badan, frekuensi nadi, pernapasan)
    2. Berat badan
    3. Edema
    4. Pemeriksaan terkait masalah yang telah teridentifikasi pada kunjungan sebelumnya

C. MELENGKAPI PEMERIKSAAN FISIK OBSTETRI

  1. Pemeriksaan fisik obstetri pada kunjungan pertama:
    1. Tinggi fundus uteri (menggunakan pita ukur bila usia kehamilan > 20 minggu)
    2. Vulva/perineum untuk memeriksa adanya varises, kondiloma, edema, hemoroid, atau kelainan lainnya.
    3. Pemeriksaan dalam untuk menilai: serviks, uterus, adneksa, kelenjar bartholin, kelenjar skene, dan uretra (bila usia kehamilan <12 minggu)
    4. Pemeriksaan inspekulo untuk menilai: serviks, tanda-tanda infeksi, dan cairan dari ostium uteri
  2. Pemeriksaan fisik obstetri pada setiap kunjungan berikutnya:
    1. Pantau tumbuh kembang janin dengan mengukur tinggi fundus uteri. Sesuaikan dengan grafik tinggi fundus (jika tersedia), atau lihat gambar berikut:
    2. Palpasi abdomen menggunakan manuver leopold I-IV:
      1. Leopold I : menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang terletak di fundus uteri (dilakukan sejak awal trimester I)
      2. Leopold II : menentukan bagian janin pada sisi kiri dan kanan ibu (dilakukan mulai akhir trimester II)
      3. Leopold III : menentukan bagian janin yang terletak di bagian bawah uterus (dilakukan mulai akhir trimester II)
      4. Leopold IV : menentukan berapa jauh masuknya janin ke pintu atas panggul (dilakukan bila usia kehamilan > 36 minggu)
      5. Auskultasi denyut jantung janin menggunakan fetoskop atau doppler (jika usia kehamilan > 16 minggu)

Cara Melakukan Palpasi Abdomen Dengan Manuver Leopold I-IV

D. MELAKUKAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan penunjang untuk ibu hamil meliputi pemeriksaan laboratorium (rutin maupun sesuai indikasi) dan pemeriksaan ultrasonografi.
    1. Lakukan pemeriksaan laboratorium rutin (untuk semua ibu hamil) pada kunjungan pertama :
    2. Kadar hemoglobin
    3. Golongan darah ABO dan rhesus
    4. Tes HIV : ditawarkan pada ibu hamil di daerah epidemi meluas dan terkonsentrasi, sedangkan di daerah epidemi rendah tes HIV ditawarkan pada ibu hamil dengan IMS dan TB
    5. Rapid test atau apusan darah tebal dan tipis untuk malaria: untuk ibu yang tinggal di atau memiliki riwayat bepergian ke daerah endemil malaria dalam 2 minggu terakhi
  2. Lakukan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi:
    1. Urinalisis (terutama protein urine pada trimester kedua dan ketiga jika terdapat hipertensi)
    2. Kadar hemoglobin pada trimester ketiga terutama jika dicurigai anemia
    3. Pemeriksaan sputum bakteri tahan asam (BTA): untuk ibu dengan riwayat defisiensi imun, batuk > 2 minggu atau LILA < 23,5 cm
    4. Tes sifilis
    5. Gula darah puasa
  3. Lakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG)
    1. Pemeriksaan USG direkomendasikan:
      1. Pada awal kehamilan (idealnya sebeum usia kehamilan 15 minggu) untuk menentukan usia gestasi, viabilitas janin, letak dan jumlah janin, serta deteksi abnormalitas janin yang berat
      2. Pada usia kehamilan sekitar 20 minggu untuk deteksi anomali janin
      3. Pada trimester ketiga untuk perencanaan USG jika alat atau tenaga kesehatan tidak tersedia
    2. Lakukan rujukan untuk pemeriksaan USG jika alat atau tenaga kesehatan tidak tersedia

C. MEMBERIKAN SUPLEMEN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT

  1. Beri ibu 60 mg zat besi elemental segera setelah mual/muntah berkurang, dan 400 µg asam folat 1x/hari sesegera mungkin selama kehamilan.
    1. Catatan: 60 mg besi elemental setara 320 mg sulfas ferosus
    2. Efek samping yang umum ari zat besi adalah gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare, konstipasi)
    3. Tablet zat besi sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan teh atau kopi karena mengganggu penyerapan.
    4. Jika memungkinkan, idealnya asam folat sudah mulai diberikan sejak 2 bulan sebelum hamil (saat perencanaan kehamilan)
  2. Di area dengan asupan kalsium rendah, suplementasi kalsium 1,5-2 g/hari dianjurkan untuk pencegahan preeklampsia bagi semua ibu hamil, terutama yang memiliki risiko tinggi (riwayat preeklampsia di kehamilan sebelumnya, diabetes, hipertensi kronik, penyakit ginjal, penyakit autoimun, atau kehamilan ganda)
  3. Pemberian 75 mg aspirin tiap hari dianjurkan untuk pencegahan preeklampsia bagi ibu dengan risiko tinggi, dimulai dari usia kehamilan 20 minggu
  4. Beri ibu vaksin tetanus toksoid (TT) sesuai status imunisasinya. Pemberian imunisasi pada wanita usia subur atau ibu hamil harus didahului dengan skrining untuk mengetahui jumlah dosis (dan status) imunisasi tetanus toksoid (TT) yang telah diperoleh selama hidupnya. Pemberian imunisaasi TT tidak mempunyai interval (selang waktu) maksimal, hanya terdapat interval minimal antar dosis TT.
    1. Jika ibu belum pernah imunisasi atau status imunisasinya tidak diketahui, berikan dosis vaksin (0,5 ml IM di lengan atas) sesuai tabel berikut.

Tabel 3. Pemberian vaksin TT untuk ibu yang belum pernah imunisasi (DPT/TT/Td) atau tidak tahu status imunisasinya

PEMBERIAN SELANG WAKTU MINIMAL
TT1 Saat kunjungan pertama (sedini mungkin pada kehamilan)
TT2 4 minggu setelah TT1 (pada kehamilan)
TT3 6 bulan setelah TT2 (pada kehamilan, jika selang waktu minimal terpenuhi)
TT4 1 tahun setelah TT3
TT5 1 tahun setelah TT4

Jangan lupa untuk ingatkan ibu untuk melengkapi imunisasinya hingga TT5 sesuai jadwal (tidak perlu menunggu sampai kehamilan berikutnya)

  • Dosis booster mungkin diperlukan pada ibu yang sudah pernah diimunisasi. Pemberian dosis booster 0,5 ml IM disesuaikan dengan jumlah vaksinasi yang pernah diterima sebelumnya seperti pada tabel berikut:

Tabel 4. Pemberian vaksin tetanus untuk ibu yang sudah pernah diimunisasi (DPT/TT/Td)

PERNAH PEMBERIAN DAN SELANG WAKTU MINIMAL
1 kali TT2, 4 minggu setelah TT1 (pada kehamilan)
2 kali TT3, 6 bulan setelah TT2 (pada kehamilan, jika selang waktu minimal terpenuhi)
3 kali TT4, 1 tahun setelah TT3
4 kali TT5, 1 tahun setelah TT4
5 kali Tidak perlu lagi

Vaksin TT adalah vaksin yang aman dan tidak mempunyai kontra indikasi dalam pemberiannya. Meskipun demikian imunisasi TT jangan diberikan pada ibu dengan riwayat reaksi berat terhadap imunisasi TT pada masa lalunya (contoh: kejang, koma, demam > 40⁰C, nyeri/bengkak ekstensif di lokasi bekas suntikan). Ibu dengan panas tinggi dan sakit berat dapat diimunisasi segera setelah sembuh. Selalu sedia KIPI Kit (ADS 1 ml, epinefrin 1 : 1000 dan infus set (NaCl 0.9% jarum infus, jarum suntik 23 G)

F. MEMBERIKAN MATERI KONSELING, INFORMASI, DAN EDUKASI (KIE)

Buku kesehatan Ibu dan Anak (KIA) wajib dimiliki oleh setiap ibu hamil karena materi konseling dan edukasi yang perlu diberikan tercantum di buku tersebut.

  1. Pastikan bahwa ibu memahami hal-hal berikut:
    1. Persiapan persalinan, termasuk:
      1. Siapa yang akan menolong persalinan
      2. Dimana akan melahirkan
      3. Siapa yang akan membantu dan menemani dalam persalinan
      4. Kemungkinan kesiapan donor darah bila timbul permasalahan
      5. Metode transportasi bila diperlukan rujukan
      6. Dukungan biaya
    2. Pentingnya peran suami atau pasangan dan keluarga selama kehamilan dan persalinan
      1. Tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai:
        1. Sakit kepala lebih dari biasa
        2. Perdarahan per vaginam
        3. Gangguan penglihatan
        4. Nyeri abdomen (epigastrium)
        5. Mual dan muntah berlebihan
        6. Demam
        7. Janin tidak bergerak sebanyak biasanya
      2. Pemberian makanan bayi, air susu ibu (ASI) eksklusif, dan inisiasi menyusu dini (IMD) Catatan: konseling pemberian makanan bayi sebaiknya dimulai sejak usia kehamilan 12 minggu dan dimantapkan sebelum kehamilan 34 minggu
      3. Penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin misalnya hipertensi, TBC, HIV, serta infeksi menular seksual lainnya.
      4. Perlunya menghentikan kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan, seperti merokok dan minum alkohol
      5. Program KB terutama penggunaan kontrasepsi pascasalin
      6. Informasi terkait kekerasan terhadap perempuan
      7. Kesehatan ibu termasuk kebersihan, aktivitas, dan nutrisi
        1. Menjaga kebersihan tubunh dengan mandi teratur du kali sehari, mengganti pakaian dalam yang bersih dan kering, dan membasuh vagina
        2. Minum cukup cairan
        3. Peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kaori/hari dari menu seimbang. Contoh: nasi tim dari 4 sendok makan beras, ½ pasang hati ayam, 1 potong tahu, wortel parut, bayam, 1 sendok teh minyak goreng, dan 400 ml air
        4. Latihan fisik normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah
        5. Hubungan suami-istri boeh dianjurkan selama kehamilan (dianjurkan memakai kondom)

Tabel 5. Rangkuman Tatalaksana Asuhan Antenatal Pertrimester

PEMERIKSAAN DAN TINDAKAN I II III
Anamnesis
Riwayat medis lengkap
Catatan pada kunjungan sebelumnya
Keluhan yang mungkin dialami selama hamil
Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan fisik umum lengkap
Keadaan umum
Tekanan darah
Suhu tubuh
Tinggi badan
Berat badan
LILA
Gejala anemia (pucat, nadi cepat)
Edema
Tanda dan bahaya lainnya (sesak, perdarahan, dll)
Pemeriksaan terkait masalah yang ditemukan pada kunjungan sebelumnya
Pemeriksaan Fisik Obstetric
Vulva/perineum
Pemeriksaan inspekulo
Tinggi fundus
Pemeriksaan obstetri dengan manuver leopold
Denyut jantung janin
Pemeriksaan Penunjang      
Golongan darah ABO dan rhesus
Kadar glukosa darah * * *
Kadar Hb *
Kadar protein urin * * *
Tes BTA * * *
Tes HIV √* * *
Tes malaria √* * *
Tes sifilis * * *
USG * * *
Imunisasi, Suplementasi, dan KIE
Skrining status TT dan vaksinasi sesuai status
Zat besi dan asam folat
Aspirin * * *
Kalsium * * *
KIE (sesuai materi)

Catatan :

  1. Tabel di atas adalah pedoman untuk ibu yang menjalani asuhan antenatal sesuai jadwal
  2. Jika ada jadwal kunjungan yang terlewatkan, lengkapi tatalaksana yang terlewatkan pada kunjungan berikutnya
  3. Lakukan rujukan sesuai indikasi jika menemukan kelainan pada pemeriksaan terutama jika kelainan tersebut tidak membaik pada kunjungan berikutnya
  4. (√) = rutin, (*) – sesuai indikasi, (√*) = rutin untuk daerah endemis

G. IDENTIFIKASI KOMPLIKASI DAN MELAKUKAN RUJUKAN

Rujukan harus dilakukan pada kondisi di luar kehamilan normal. Klasifikasi kehamilan terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 6. Klasifikasi kehamilan

KATEGORI GAMBARAN
Kehamilan normal 1.      Keadaan umum ibu baik
2.      Tekanan darah < 140/90 mmHg
3.      Bertambahnya berat badan sesuai minimal 8 kg selama kehamilan (1 kg tiap bulan) atau sesuai IMT ibu
4.      Edema hanya pada ekstremitas
5.      Denyut jantung janin 120-160 kali/menit
6.      Gerakan janin dapat dirasakan setelah usia kehamilan 18-20 minggu hingga melahirkan
7.      Tidak ada kelainan riwayat obstetri
  8.      Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
  9.      Pemeriksaan fisik dan laboratorium dalam batas normal

 

Kehamilan dengan masalah khusus Seperti masalah keluarga atau psikososial, kekerasan dalam rumah tangga, kebutuhan finansial, dll

 

Kehamilan dengan masalah kesehatan yang membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama penanganannya
  1. Riwayat pada kehamilan sebelumnya: janin atau neonatus mati, keguguran ≥ 3x, bayi < 2500 g atau > 4000 g, hipertensi, pembedahan pada organ reproduksi
  2. Kehamilan saat ini: kehamilan ganda, usia ibu < 16 atau 40, Rh (-), hipertensi, massa pelvis, penyakit jantung, penyakit ginjal, DM, malaria, HIV, sifilis, TBC, anemia berat, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, LILA < 23,5 cm, tinggi badan < 145 cm, kenaikan BB < 1 kg atau > 2 kg tiap bulan atau tidak sesuai IMT, TFU tidak sesuai usia kehamilan, pertumbuhan janin terhambat, infeksi saluran kemih, penyakit kelamin, malposisi/malpresentasi, gangguan kejiwaan, dan kondisi-kondisi lain yang dapat memburuk kehamilan

 

Kehamilan dengan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan rujukan segera Perdarahan,preeklampsia, eklampsia, ketuban pecah dini, gawat janin, atau kondisi-kondisi kegawatdaruratan lain yang mengacam nyawa ibu dan bayi

Untuk kehamilan dengan masalah kesehatan/komplikasi yang membutuhkan rujukan, lakukan langkah-langkah berikut:

  1. Rujuk ke dokter untuk konsultasi
    1. Bantu ibu menentukan pilihan yang tepat untuk konsultasi (dokter puskesmas, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dsb)
  2. Lampirkan kartu kesehatan ibu hamil berikut surat rujukan
  3. Minta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan membawa surat dengan hasil dari rujukan
  4. Teruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi selama kehamilan
  5. Lakukan perencanaan dini jika ibu perlu bersalin di fasilitas kesehatan rujukan:
    1. Menyepakati rencana kelahiran di antara pengambil keputusan dalam keluarga (terutama suami dan ibu atau ibu mertua)
    2. Mempersiapkan/mengatur transportasi ke tempat persalinan, terutama pada mala hari selama musim hujan
    3. Merencanakan pendanaan untuk biaya transportasi dan perawatan
    4. Mempersiapkan asuhan bayi setelah persalinan jika dibutuhkan

Untuk kehamilan dengan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan RUJUKAN SEGERA:

  1. Rujuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat di mana tersedia pelayanan kegawatdaruratan obstetri yang sesuai
  2. Sambil menunggu transportasi, berikan pertolongan awal kegawat daruratan, jika perlu berikan pengobatan
  3. Mulai berikan cairan infus intravena
  4. Temani ibu hamil dan anggota keluarganya
  5. Bawa obat dan kebutuhan-kebutuhan lain
  6. Bawa catatan medis atau kartu kesehatan ibu hamil, surat rujukan, dan pendanaan yang cukup

hettyastri

Sumber :
Kemenkes RI, 2013. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi Pertama. Jakarta.