Masa remaja adalah masa berproses mencari identitas diri mendapatkan pengakuan dari masyarakat, mereka berusaha semaksimal mungkin agar menjadi bagian dari masyarakat. Saat ini penduduk di dunia 27% – 30% berusia antara 10 – 24 tahun dan 83% dari mereka berada di negara berkembang. Di Indonesia sendiri golongan usia 10 – 24 tahun adalah 64 juta atau sekitar 31% dari total populasi, sedangkan khusus untuk remaja usia 10 -19 tahun berjumlah 44 juta atau 21% (WHO, 2007). Jumlah yang banyak ini memerlukan perhatian khusus dari semua pihak, karena masa ini merupakan masa pancaroba, masa pencarian jati diri, ditambah lagi dengan arus globalisasi dan informasi yang kian tak terkendali mengakibatkan perilaku remaja menjadi tidak sehat yang selanjutnya berdampak pada tiga risiko Triad KRR yaitu Seks Pranikah, Narkoba, HIV dan AIDS. Kondisi ini apabila dibiarkan terus menerus akan mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia 10 -20 tahun yang akan datang.

Remaja merupakan golongan yang berisiko terkena permasalahan kesehatan reproduksi, kecendrungan sikap permisif remaja terhadap perilaku seks berisiko atau perilaku seks pranikah dapat menimbulkan risiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), tertular infeksi menular seksual (IMS) dan bahkan HIV. Secara global, 40% dari semua kasus HIV dan AIDS terjadi pada kaum muda 15 – 24 tahun. Data menunjukan, di Indonesia kasus AIDS sudah mencapai 8.914 orang, dimana separuh dari kasus ini adalah kaum muda (umur 15 – 29 tahun = 57,4%) (Prawira, 2012). Komisi Nasional Penangulangan AIDS menemukan di 33 Provinsi 97% remaja SMP dan SMA pernah nonton film porno, 93% remaja SMA pernah ciuman, genital stimulation dan oral sex,  62,7% remaja SMP tidak perawan dan 21,2% mengaku pernah aborsi (KPA, 2008).

Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang benar bagi remaja sangatlah penting. Selama ini tujuan dari program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), dan Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menambah wawasan dan mengubah perilaku seseorang ke arah yang positif dan lebih baik, namun banyak diantara pemilihan media KIE tersebut kurang tepat sasaran atau tidak sesuai dengan minat remaja. Sehingga terkadang remaja menerima informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi dari media lainnya yang lebih mereka minati dan lebih sering mereka acsess meskipun kebenaran informasinya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, media sangat berperan penting dalam membentuk pengetahuan seorang remaja dalam memahami masalah kesehatan reproduksi. Informasi yang kurang tepat, akan sangat mempengaruhi pengetahuan yang menjadi kurang tepat juga (Prawira, 2012).

Hubungan seks pranikah tidak hanya belum diterima oleh masyarakat tetapi juga menimbulkan masalah lain. Kehamilan diluar nikah adalah salah satu masalah yang muncul akibat hubungan seks sebelum nikah. Kehamilan ini tidak saja menimbulkan masalah sosial, tetapi juga masalah kesehatan bagi yang bersangkutan, terutama bila yang mengalaminya adalah remaja yang masih muda usia. Kehamilan pada usia muda ditinjau dari segi kesehatan mengandung risiko tinggi, baik ketika masa kehamilan maupun saat melahirkan. Risiko yang dimaksud bukan hanya risiko sakit pada yang mengandung dan dikandung, tetapi juga risiko kematian. Secara psikologis, perilaku seks sebelum menikah juga membawa pelakunya mengalami perubahan-perubahan (Pratiwi, 2010).

Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah. Motivasi merupakan penggerak perilaku, motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan rasa cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Stenberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh kelompok (Konfornitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah. Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkan melalui pengalaman mereka sendiri “Learning by doing”.

Salah satu alasan meningkatkan kepedulian untuk berkomunikasi dengan remaja tercermin pada grafik yang menggambarkan buramnya potret remaja Indonesia akibat dilumuri kasus-kasus beraroma ponografi dari mulai seks bebas, aborsi, sampai terpapar HIV/AIDS. Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Kesehatan mendapati pada Oktober 2014 sekitar 62,7% remaja Indonesia telah melakukan hubungan seks diluar nikah. 20% dari 94.270 perempuan yang mengalami hamil diluar nikah juga berasal dari kelompok usia remaja dan 21% diantaranya pernah melakukan aborsi. Lalu pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus, 30% penderitanya berusia remaja. Fenomena itu sebenarnya merupakan lanjutan dari begitu banyak kemudahan yang diterima anak-anak, bahkan yang berasal dari para orangtua mereka sendiri, untuk mengakses konten-konten porno di media sosial via gadget yang diperoleh pada usia terlalu dini tanpa dibekali aturan yang tepat dalam penggunaaannya (Kompasiana, 2013).